Articles

ANTARA CINTA DAN BENCI

ANTARA CINTA DAN BENCI; SITI NUR ALISA (XI IPA)

Kini diriku semakin beranjak dewasa , dulu cintaku masih labil seperti anak kecil yang sedang
bercinta tapi kini aku tahu makna cinta yang sebenarnya .
Aku visya, umurku 18 th aku tahu aku masih terlalu kecil untuk memikirkan tentang jodoh ,tapi
apalah daya aku selalu mengimpikan pendamping yang sempurna.
Aku masih duduk di bangku kelas 3 MA, disamping itu aku juga mondok , sebenarnya sekolah
umum hanyalah tugas sampingan bagiku aku hanya ingin mondok saja fokus pada agama tapi karna
semua mendukungku untuk sekolah, akhirnya akupun memutuskan untuk sekolah.
Sebelumnya aku sudah pernah mondok di pesantren salaf tapi itu tidaklah bertahan lama hanya
beberapa bulan saja setelah itu aku pindah ke pondokku yang saat ini dan disini semua terjadi cerita
pun di mulai.

Kegiatan dipondok sangatlah padat di tambah lagi dengan tugas sekolah, waktu luang semakin
sempit . Hari hariku dipenuhi dengan canda dan tawa bersama teman-teman, suka dan duka kita
lalui bersama beginilah indahnya mondok disini kita belajar tidak hanya pada materi saja tapi kita
bisa belajar bersosialisasi bersama orang yang tak dikenal . Tak heran jika santri bisa segalanya karna
kita tidak pernah menyerah atas satu kegagalan dan kita tak punya rasa letih untuk belajar.
Di pondokku ini nggak semua santri ngajinya barengan semua terbagi sesuai dengan tingkatan
tingkatan nya .Awal mula masuk pondok aku aku ikut halaqah bawah setahun kemudian mulai naik
lagi dan bertemu dengan sosok yang sangat membuatku kagum, dia bisa mengalihkan semua
pikiranku dan dia mampu membuat aku terpaku. Tiada hari tanpa aku bertemu dimanapun tuhan
selalu mempertemukanku dengan nya, ya karna kita satu pondok satu halaqah ngaji dan satu
sekolahan lucu banget kita tuh pasti ketemu nggak pernah enggak soalnya pondok kita itu satu
halaman .

Awalnya aku juga tidak kenal dengan nya ,namanya aja juga nggak tahu entah lah gimana rasa ini
bisa muncul,dia itu tidak ada rasa malu dengan seorang wanita jadi hampir semua santriwati di
pondok ini pernah di ajak bicara , termasuk aku setelah kita mulai kenal kita jauh lebih dekat
meskipun ada rasa malu malu tapi mau…wk.wk.wk.
Aku tuh malu banget kalau ketemu sama dia entah pas di toko atau di aula putra soalnya dia itu
suka ngelirik ngelirik suka senyum-senyum gitu dan dia itu juga suka godain, kan akunya jadi k-PD an
gitu salting salting nggak jelas, gitu terus tiap hari sampai aku kalau ketemu pas mau kemana gitu
jadi nggak jadi karna ada dia.

Tahu nggak dia siapa ,sosok yang mampu membuat hatiku berpaling dari masa laluku sosok yang
mampu membuatku jatuh hati padanya. Semua orang memanggilnya Rizqi
“Hai ……… !” Sapa dia ditoko sambil senyum – senyum dengan mata yang menggoda.
“Apasih nggak jelas” jawab aku dengan wajah cuek.
Itu masih awal – awal dia ngajak bicara nggoda – goda gitu jadi aku masih biasa aja tapi karna tiap
hari dia gitu terus sama aku ya Allah aku nggak bisa nahan salting banget aku bahkan meskipun dia
nggk ngapa ngapain aku lewat salting sendiri nggak jelas banget kan .
Cinta ini mulai tumbuh entah sejak kapan dan semakin hari cinta ini semakin kuat , dulu aku yang
tiap hari ketemu biasa biasa aja sekarang 1 jam saja nggk ketemu kangennya nggak betah – betah.
“ Ya Allah …..ada apa ini aku kangen banget kapan ketemu…!!! Batinku saat merindukannya.
Suara Rizqi enak itu yang membuatnya di beri tanggung jawab untuk menjadi muadzin di masjid ,
jika dari pagi aku tidak melihatnya, suara adzan yang aku nanti darinya meskipun hanya
mendengarkan dia adzan itu sudah membuat aku sedikit lega.

Hari ketika aku bantu bantu di toko
“Mbk beli ……!” Ucap dia
Karena mbk nya lagi sibuk jadi aku yang melayani.
“Beli apa ?” Jawab aku sambil malu-malu
Dan seperti biasa nggak langsung jawab malah ngelihatin terus kan aku jadi salting
“Beli es sama ini ( jajan ) “ ujar dia sambil senyum-senyum nggak jelas
Tangan aku tuh gemetaran jantung udah deg – degan pokoknya nggak jelas jadi grogi semua
mana dia nungguin lagi tambah malu aku.

Setelah selesai es nya aku kasihkan
“Berapa sama ini” tanya Rizqi sambil menggoda
“Lima ribu .” Jawab aku sambil menahan biar nggak salting
Rizqi kan sudah ngasih uangnya ke aku tapi dia itu nggak pergi pergi malah ngelihatin aku terus
kan jadi salting lagi aku
“ Udah …..” . Ucap aku dengan nada agak tinggi
“Iya udah …..” Jawab Rizqi dengan wajah tanpa salah dan pergi sambil senyum-senyum
Ya Allah jengkel banget aku tapi seneng sih di gituin .wk.wk.wk…
Rizqi kalau sudah kayak gitu buat hati aku melayang layang. Haha
Banyak santri putri yang kenal dengan Rizqi bahkan sebagian lebih tahu tentang Rizqi dari pada
aku. Kalau mereka sudah Manas – manasin jengkel banget aku gimana nggk jengkel coba
“Hey .. Apa sih Rizqi itu lho suka sama Salwa kalau sekolah lho bareng terus”.ujar teman sambil
ngelirik aku
Denger gitu aku jadi cemburu ,terus cari tahu siapa Salwa rumahnya dimana ada hubungan apa
sama Rizqi pokok aku harus tahu dengan jelas kan Rizqi punya aku nggak boleh di jodohkan sama
orang lain.

Hari terus berlanjut 3 tahun telah berlalu kini aku tidak perduli dengan masa lalu Rizqi aku yakin
kalau dia masih suka sama aku . Meskipun akhir – akhir ini dia sering cuek tapi dia masih sering
perhatian sama aku.
2 tahun yang lalu datang anak baru di pondok namanya imam ini awalnya biasa saja lihatnya
seperti cowok – cowok yang lain tapi lama – lama aku jadi bersikap aneh kepadanya entah kenapa
saat aku bicara dengannya semua yang mau aku omongin jadi hilang kata dan grogi bahkan sampai
sekarang masih gitu.
Ketika Bu nyai mau menghadiri suatu acara di Surabaya beliau menimbaliku
“ Visya , tolong bilangkan ke imam suruh siapakan mobil di depan.” Dawuh ibu sambil bersiap –
siap
“ Nggeh bu.” Jawab aku dengan nada pelan
Akhirnya akupun bilang ke imam untuk menyiapkan mobil di depan awalnya aku mikir mungkin
ibu hanya pergi sama umik di antar imam ternyata enggak
“ Visya……!” Panggil ibu
“ Nggeh…..” Sambil berjalan ke kamar ibu
“ Kamu siap – siap ya saya ajak kamu ke Surabaya.”
“ Owh nggeh buk….” Jawab aku sambil mikir – mikir berarti sama imam dong
Saat semuanya sudah siap kita berangkat naik mobil yang di setir sama imam grogi semua
rasanya duduk di samping Bu nyai malu karena yang nyetirin imam. Setelah acara selesai aku dan ibu
kembali ke mobil dan ternyata imam sedang tidur terus di bangunin sama ibu pas dia bangun
kayaknya dia malu banget deh .wk.wk.wk

Imam langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk ibu dan pulang ke dalem .Jika ibu
ingin pergi ke Surabaya atau ke acara-acara seperti itu pasti selalu ngajak aku dan pasti imam yang
nyetir jadi aku malu banget kalau pas di pondok ketemu sama imam.
Karna sekolahku sudah lulus aku jadi bisa fokus di pondok dan aku memilih untuk ikut tahfidz .
Saat ini Qur’an ku tinggal 10 juz lagi aku ingin menikah dengan seseorang yang aku impikan yang bisa
menemaniku dalam suka maupun duka sampai aku bikin jadwal kalau aku sudah nikah nanti. Hehe…
Aku pengen punya suami yang bisa bangun di sepertiga malam agar nanti membangunkan ku
dan sholat witir berjamaah kemudian menyimak hafalan Qur’an ku . Suami yang memanjakanku
menerima kekuranganku memaafkan kesalahan yang aku lakukan pokoknya suami yang terbaik.
Aku cinta sama Rizqi semua kriteria yang aku inginkan ada pada diri Rizqi, pandai , rajin , disiplin
suaranya enak apalagi kalau ngaji ya Allah bikin hati adem dan tenang.
Hari ini hari Jumat , entah kenapa dari bangun tidur aku merasa bahagia sekali. Malam telah tiba
tepat pukul 9 malam setelah kegiatan pondok selesai semua tiba – tiba Buya menimbaliku di ruang
tamu entah ada apa tapi jantung ini terus berdetak kencang.

“ Ya Allah ada apa ya nggak pernah Buya menimbaliku seperti ini , ya Allah mana ini detak
jantung kenceng banget. Ya Allah ada masalah apa …..” Ucap aku dalam batin
10 menit berlalu dan akhirnya Buya datang bersama ibu kita sama sama duduk dibawah .
Jantung ini semakin deg degan tanganku tidak bisa digerakkan saking lemesnya.
“ Visya ….. nggak papa.” Tanya Buya sambil tersenyum
“ Nggeh …” Jawab ku dengan nada pelan dan tersenyum
“ Bingung ta Sya kok gemetaran gitu “ ucap ibu sambil menahan tawa
“Nggeh bu” jawab aku sambil malu-malu
“ Jadi gini saya mau cerita mau denger nggak ?” Tanya Buya
Aku hanya mengangguk ngangguk sambil tersenyum
“Kemaren ada anak yang sowan kesini bilangnya mau cari jodoh , ya saya bilang maaf disini
bukan tempat jualan jodoh.” Dawuh Buya sambil tertawa , ibu dan aku juga ikut tertawa.
“ Masak datang kesini nyari jodoh kan saya nggak jualan , tapi saya bilang ke anaknya kalau stok
jodoh disini banyak terus anaknya tertawa.wkwkwk….”canda Buya
“ Anaknya pasrah minta di cariin tapi langsung nunjuk perempuan nya kan saya jadi bingung
katanya pasrah siapapun pokok yang terbaik tapi dia nyebut nama perempuan yang di senangi , ada
ada saja anak ini banyol banget.” Lanjut Buya sambil tertawa
“ Sudah malam langsung saja ya, kemaren ada anak putra sowan kesini katanya suka sama visya
terus mau minta visya tapi anaknya nggak berani datang langsung ke rumah kamu sebelum izin ke
saya , ya saya bilangin kamu punya apa minta minta anak orang.” Dawuh Buya dan akupun menahan
tawa sambil berfikir siapa dia.
“ Dia malah jawab saya punya cinta yang besar dan tulus , aduh ….. Saya denger itu langsung
meleleh apalagi kamu yang denger pingsan mungkin.” Dawuh Buya
“ Buya bisa aja baper ini lho anaknya .” Dawuh ibu sambil lihat aku.
“ Kalau memang kamu serius ya nggak papa tapi tak tanyakan dulu ke visya nya sudah siap apa
belum, terus mau apa nggak anaknya tak bilangin jangan terlalu berharap dulu kalau nggak jadi
nanti sakit hati lho.” Sambung Buya sedikit serius.
“Visya sudah siap nikah apa belum ?” Tanya Buya dengan serius
Aku tak bisa menjawab pertanyaan Buya sebenarnya aku ingin menikah dari segi umurpun sudah
cukup tapi aku bingung yang dimaksud Buya ini siapa, apakah anak sini apa anak luar jadi aku
bingung.

“ In Sya Allah kalau sudah ada jodohnya saya siap.” Jawab aku sambil tersipu malu.
“ Lho mbk visya mau nikah aku di tinggal dong .” Dawuh ibu sambil menyenggolku.
“ Kalau memang sudah siap ya nggak papa lebih cepat lebih baik, tapi masalahnya visya mau ta
sama anaknya, santri sini tiap hari juga ketemu.” Tegas Buya.
“ Maaf memang siapa yai?” Tanya aku sambil malu-malu.
“ Imam , katanya sudah lama suka sama kamu jika dilihat sepertinya dia memang serius , ya
semua kembali ke kamu kalau memang sama – sama suka ya saya setuju saya ridho dengan
pernikahan ini.” Dawuh Buya .
Dengan seketika aku terdiam dan ingin menangis tapi aku malu dengan Buya dan ibu.
5 menit tidak ada jawaban dari ku ,aku hanya tertunduk diam tanpa mengucapkan sepatah
katapun.

“ Gimana visya mau apa nggak sama imam ?Tanya Buya
Aku bingung harus jawab apa aku mengira dari awal orang yang dimaksud Buya itu Rizqi, aku
sudah semangat , bahagia tapi ternyata bukan dia orangnya. Aku harus beri jawaban apa.
“ Maaf yai saya ikut yai saja, yai lebih tahu mana yang terbaik untuk saya dibanding diri saya
sendiri .” Jawab aku dengan terpaksa.
“ Gini saja sekarang sudah jam 11 lebih baik istirahat dulu kapan kapan kita musyawarahkan lagi,
sekalian pikirkan lagi apakah visya sudah benar-benar siap menikah atau belum dan tentukan pilihan
kamu.” Dawuh yai
“ Nggeh …..” Jawab aku dengan nada lemas.
“ Kalau visya cocok sama imam ya Alhamdulillah kalau memang tidak cocok bilang saja kita tidak
memaksa kamu, sudah ayo tidur besok ngaji.”Dawuh ibu sambil meninggalkan
“ Nggeh buk ….” Jawab aku sambil meneteskan air mata.
Setelah Buya dan ibu ke kamar aku masih terdiam di ruang tamu , memikirkan nasib hidupku ,
mengapa harus imam kenapa tidak Rizqi saja yang jelas-jelas aku sangat mencintainya aku ingin
sekali hidup bersamanya, dia sosok yang selama ini aku impikan aku dambakan tapi kenapa harus
orang lain yang tidak aku cinta sama sekali.

“ Ya Allah aku mencintai Rizqi , aku tidak mau pisah darinya , untuk jauh sedetikpun aku tidak
bisa apalagi selamanya, bagaimana aku bisa bahagia tanpanya aku menyayanginya , benar benar
menyayanginya , ya Allah………!!!! Aku menjerit dan menangis terisak-isak.
Sepertinya aku sudah terlalu lama di ruang tamu , aku memilih untuk kembali kekamar dan tidur
. Aku mencoba untuk menenangkan hatiku dan merilekskan pikiranku , namun segala cara yang
kucoba tidak bisa menghantarkanku dalam tidur, aku masih terbayang-bayang dengan tadi , aku
harus apa aku bingung , aku sudah putus asa . Terlintas dalam hatiku untuk berwudhu dan sholat
tahajjud , akhirnya aku sholat dan meminta petunjuk kepada Allah.
“ Ya Allah , yang maha pengasih lagi maha penyayang , yang maha membolak-balikkan hati
setiap insan , Engkau tahu mana yang baik untuk hambamu dan mana yang buruk untuk hambamu ,
sesungguhnya aku pasrah kepada ya Allah , hamba bingung hamba harus memberi jawaban seperti
apa , Engkau tahu bukan imam yang hamba cintai , engkau tahu bukan imam yang hamba inginkan .
Namun hamba tidak bisa menolak pilihan yai , siapapun pilihan yai itu jauh lebih dari pada pilihan
hamba. Hamba pasrah kepadamu ya Allah , berikanlah hamba pemimpin yang Sholeh yang mampu
membimbing hamba di dalam jalanmu , aamiin…….” Doaku di sepertiga malam .
Setelah sholat aku baru bisa tidur dengan tenang sampai adzan subuh terdengar dan
melanjutkan aktivitas sehari-hari di pondok.
Hari – hariku dipenuhi rasa takut dan bingung tentang imam, saat aku bertemu di jalan aku jadi
merasa canggung . Satu bulan berlalu dan semua masih tetap sama , aku mendapat panggilan lagi
dari ibu kalau besok pagi aku akan di mintai jawaban soal kemaren , hati ini sangat deg – degan
bingung mau ngasih jawaban apa , akhirnya aku sholat istikharah untuk meminta jalan keluar dan
ketenangan hati kepada Allah .

Tepat pukul 8 pagi di ruang tamu
“ Gimana sudah ada pilihan ?” Tanya Buya sambil tersenyum.
“ Nggeh yai saya ikut yai.” Jawab aku
“ Ya sudah berarti mau ya sama imam , nanti saya akan rundingkan dengan guru yang lain .”
Dawuh Buya
Mungkin ini jawaban dari doa doa ku , mungkin memang imam yang terbaik untukku , semoga
saja.
3 hari kemudian imam datang ke rumahku untuk mengkhidbahku tapi aku masih tetap di
pondok karna yai tidak menyuruhku pulang . Orang tua dan keluarga semuanya sudah setuju dan
tanggal pernikahan sudah di tetapkan .
15 Mei 2021 , tepat ulang tahunku dan tanggal pernikahanku . Aku pasrah semoga pernikahan ini
membawa keberkahan bagi keluarga ku nanti.
Acara akad nikah dilaksanakan di pondok , keluargaku dan keluarga imam di pertemukan disini
untuk yang kedua kalinya. Sebentar lagi akad akan di mulai aku dirias di kamar dalem , jantungku
berdegug kencang , ibu memanggilku untuk bersiap . Akad telah dimulai
“Ankahtuka wa Zawwajtuka Makhtubataka Visya Anggraini Binti muhammad Ishaq alal Mahri
dhahab 5 jiram wataqam adwat shalat hallan.” Buya mengakadkan.
“ Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq .”
Jawab imam.

Akad telah selesai , aku dan imam sudah resmi menikah . Imam di antar ke dalem untuk
menemuiku , aku merasa malu aku harus apa , ibu menyuruhku untuk bersaliman dengan imam tapi
aku malu aku canggung tanganku gemetaran , aku merasa lemas sekali .
“ Alhamdulillah sudah sah , ayo visya Saliman dulu dengan suamimu , ayo sini .” Dawuh ibu
sambil menggoda ku.
Aku hanya bisa tersipu malu , aku gugup banget.
“ Visya ayo nggak usah malu-malu , sudah halal nggak papa pegang – pegang , ya Allah tangannya
dingin banget gemeteran .” Dawuh ibu sambil menarik tanganku.
Ibu terus memaksaku untuk bersaliman dengan imam tapi aku tidak mampu mengangkat
tanganku rasanya sangat lemas sekali , saat mau salaman aku menarik tanganku lagi karena
tanganku lagi – lagi gemeteran dan imam malah menahan tawa kan aku jadi malu.
Aku mencoba menenangkan dirimu dan akhirnya aku mampu bersaliman dengan imam dan lagi –
lagi , ibu malah menyuruh imam untuk mencium keningku , ya Allah aku malu banget untung saja
sudah halal .wk.wk.wk.
Sebelum perjalanan pulang ke rumah kami beristirahat di pondok dulu , aku bingung harus apa
ini pertama kalinya aku duduk berdampingan dengan laki – laki rasanya jantungku mau copot.
Sebelum kami pulang yai berpesan kepadaku dan kepada imam
“ Sekarang visya dan imam sudah halal , visya kalau mau manggil suaminya jangan langsung
nama ,mam imam lagi ngapain , kalau gitu ya nggk sopan , manggilnya mas imam gitu , masak sudah
nikah manggilnya imam , mam mau makan apa , imam makan tahu tempe aja ya ,wk.wk.wk……!
Dawuh yai sambil tertawa lepas.

Aku dan imam jadi tersipu malu
“ Tak kasih waktu seminggu untuk istirahat dirumah , bersenang-senang terserah mau ngapain
tapi balik kepondok lagi lho ya , nanti tak sediakan tempat disini biar masih bisa Khidmah di pondok
.” Lanjut Yai
“Nggeh ….. “ Jawab mas imam
Setelah itu aku dan mas imam pulang kerumah ku terlebih dahulu setelah 3 hari baru kerumah
mas imam , setelah satu Minggu akhirnya aku dan mas imam balik kepondok , waktu di rumah kami
berbicara biasa tapi aku masih canggung dengannya dan aku masih cuek dengan mas imam .
Kita berdua pergi kepondok dengan sepeda motor setelah sampai kita langsung sowan ke yai dan
kita di kasih tempat untuk tidur dan beraktivitas disini.

“ Dek sini tak bawakan tas nya.” Mas imam menawarkan
Aku memberikan tas ku dengan tersenyum.
Satu bulan berlalu di pondok selain mengurus suami aku juga masih membantu yai dan ibu .
Selama di pondok ternyata terdapat hikmah dan nikmat yang besar , mas imam tidak pernah
menyerah untuk membuatku nyaman dengannya dan membuatku cinta dengannya .
Tidak tahu ada apa dengan diriku , tapi aku merasa nyaman berada di dekat mas imam , aku juga
sering Merindukan mas imam ketika mas di ajak pergi yai . Tanpa aku sadari ternyata aku sudah
mulai mencintainya.
Selepas ketika mau tidur aku memberanikan diri untuk bicara kepada mas imam terlebih dahulu .
“ Mas…!” Panggilku dengan nada pelan karna malu.
Mas imam menoleh dengan kaget karna aku jarang mengajak bicara ketika mau tidur
“ Iya dek ada apa? “ Tanya mas imam
“ Mas aku mau minta maaf kemaren – kemaren aku sering cuek ke mas , maaf kan aku ya yang
kurang perhatian dengan mas.” Ujar aku
“ Apa sih dek , aku biasa aja yang penting sekarang kamu sudah perhatian sama aku dan kamu
bahagia bersamaku.”

Aku merasa senang karena mas imam mau memaafkanku dan hidup bahagia di pondok dan
menjalani kehidupan yang penuh hikmah dan kenikmatan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button