61 views

1.ย  ย ๐™‹๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐˜ฟ๐™ž๐™จ๐™ž๐™ฅ๐™ก๐™ž๐™ฃ ๐™’๐™–๐™ ๐™ฉ๐™ช

โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€

Cahaya dari sang surya telah menembus surai dan jendela seorang gadis yang kini masih terlelap dan bergelut manis dengan ranjangnya. Sepertinya ia kelelahan karena semalam begadang demi menonton drakor.

Beberapa menit kemudian ia merasa terusik karena tidurnya terganggu. Ternyata itu adalah ulah ibunya yang menarik-narik selimut gadis itu untuk membuatnya terbangun. Namun, karena merasa belum mendapatkan hasil apapun, ibunya pun menggelitiki kaki sang putri agar ia cepat terbangun, ibunya sangat tau kalau gadis itu sangat anti dengan kegelian.

Dan benar saja, sontak gadis itu langsung terperanjat dari tidurnya dan terbangun kaget sambil menatap ibunya bingung. “Ibu, kenapa membangunkan Aina, ini masih shubuh kan?” ujar Aina sambil mengucek matanya. “Hey, shubuh bagaimana kamu. Ini sudah pagi, kamu tidak berangkat sekolah hah? kan sudah dibilang kalau setelah sholat shubuh jangan tidur lagi! bandel banget kamu.” oceh Ibu Aina. “Ah Ibu, kan Aina masih ngantuk bu.” ucap Aina sambil memegang ujung selimut hendak menarik ketubuhnya kembali. Namun sebelum itu terjadi, ibunya sudah terlebih dahulu menarik selimut itu agar Aina tidak kembali tidur. “Kok malah mau balik tidur lagi kamu! sana mandi Ai, hari ini kan hari senin nanti kamu telat loh.” tegas Ibu Aina sambil berjalan meninggalkan kamar Aina.

Setelah semua kesadarannya terkumpul, Aina baru ingat kalau hari ini hari senin. Dengan memberanikan diri ia menengok ke arah jam dinding. Boom! sekarang sudah jam 6 lebih 15 menit. Dengan jurus kage bunshin ia langsung melesat ke kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandi nya menggunakan waktu yang sangat singkat itu.

Hari senin, hari yang paling tidak disukai kebanyakan pelajar. Biasanya dihari itu akan ada pelaksanaan upacara bendera dan juga waktunya guru kedisiplinan melakukan tugasnya. Mulai dari pemeriksaan atribut sampai ketepatan waktu dan kerapian diri.

Setelah selesai mandi dan memakai seragam Aina bergegas keluar kamar dan pamit kepada Ibunya yang saat itu sedang berada di dapur. “Ibu, Aina pamit dulu ya. Assalamu’alaikum.” ujar Aina sopan sambil mencium tangan ibunya. “Iya, Hati-hati berangkat nya Ai. Wa’alaikumsalam.”ucap Ibu Aina.

Aina keluar rumah dan mengayuh sepedanya menuju sekolah. Sampai di parkiran sekolah, ia memakirkan sepedanya. Saat di perjalanan menuju gerbang ia melihat guru kedisiplinan dan beberapa pengurus OSIS di depan gerbang seperti orang yang sedang berpatroli. Aina melirik jam tangan nya dan sekarang pukul 7 tepat. Ia lantas berlari agar cepat sampai di gerbang. Karena ia lari tanpa melihat jalan, alhasil Aina jatuh di depan trotoar gerbang sekolah. Ah! sangat memalukan sekali, batin Aina. Gadis itu sontak langsung berdiri dan membersihkan roknya. Pekikan dari beberapa siswa dan siswi terdengar ditelinganya. Sungguh dia ingin tenggelam saja kali ini.

Aina hanya cengengesan dan berusaha bersikap biasa saja. Ia melanjutkan langkahnya untuk menjabat tangan para guru yang sedang berjaga dan tak lupa anggota OSIS yang sebelumnya sudah mengecek setiap inci atribut dari Aina. Saat berjabat tangan tepat pada guru kedisiplinan, iya langsung disuguhkan dengan jeweran khas di telinganya. Aina memekik sakit, “Aww pak! telinga Aina sakit aduuh” ujar Aina sambil mengelus-elus telinganya. “Kamu tidak tau ini hari apa? hari senin kan waktunya upacara dan kamu berangkat jam 7 itu kamu mau bapak kasih hukuman apa hah?” tegas Guru kedisiplinan itu pada Aina. Sontak Aina terperanjat kaget dan hanya menatap guru itu dengan tatapan memelas alih-alih mendapat keringanan. Namun, hasilnya nol besar. Disiplin tetap harus dipatuhi, disiplin ada untuk membentuk diri kita menjadi seseorang yang bertanggung jawab pada apapun termasuk waktu.

Aina menatap kedepan dengan tatapan kosong, disana petugas upacara bahkan sudah berbaris rapi dengan para siswa-siswi berada di belakangnya. Disebelah selatan barisan, sepertinya adalah barisan siswa-siswi yang melanggar dengan tidak memakai atribut lengkap bahkan datang terlambat. Aina menghela nafas pasrah, sepertinya ia harus berada dibarisan siswa-siswi itu.

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju barisan murid yang melanggar, dengan guru kedisiplinan yang memandu dibelakangnya. Aina nggak akan kabur kemana-mana kali pak, nggak usah di kawal kayak buronan gitu. Sayangnya, itu hanya bisa Aina ucapkan dalam hatinya saja. Aina tidak mungkin memancing kemarahan guru itu lagi, sudah kapok dia.

Aina bukanlah siswi yang nakal atau bandel. Ia termasuk dalam jajaran siswi berprestasi juga, namun terkadang sikap molornya ini yang menjadikan ia harus lebih diatur lagi. Meskipun begitu, ia jarang terlambat mungkin kalau terlambat dikarenakan ia begadang dan marathon Drama Korea semalam. Hal itu yang membuat Ibu dan Ayah nya sering menyita laptop atau bahkan ponselnya.

Aina berbaris dibarisan siswa-siswi yang melanggar itu. Saat waktu penyampaian amanat oleh kepala sekolah, ia terlihat sudah kelelahan karena berdiri di bawah sinar matahari secara langsung itu. Keringatnya sudah bercucuran, dan perlahan penglihatan nya menghitam. Iya, Aina jatuh pingsan.

Beberapa guru kemudian membawanya ke UKS. Saat diberi minyak kayu putih dan beberapa menit kemudian Aina sadar. Perlahan membuka matanya Aina melihat guru BK dan 2 guru lainnya berada di sampingnya. Saat Aina telah sadar, sang guru memberi minum air putih pada Aina kemudian mendudukan nya agar posisinya lebih nyaman.

“Bagaimana kamu bisa pingsan Ai? apa tadi pagi kamu tidak sarapan?” tanya seorang guru padanya. Aina sontak menunduk sambil memainkan jemarinya, “iya Bu, Aina tadi buru-buru jadi lupa belum sarapan” ujar Aina. “Benar saja kamu sampai pingsan begini, lain kali selalu biasakan sarapan pagi Ai. Dan juga jangan sering begadang! lihat kamu sampai datang terlambat begini.” jelas sang guru. Aina hanya menganggukkan kepalanya paham.

Setelah melihat keadaan Aina yang sudah mulai membaik, Aina memutuskan untuk kembali ke kelasnya saja karena sepertinya upacara juga sudah selesai. Dengan persetujuan para guru, Aina kembali ke kelas dan mendudukkan badannya di kursi nya sambil meletakkan kepalanya diatas meja.

Baru beberapa menit saja, sudah ada raungan panggilan atas nama Aina yang dipanggil guru kedisiplinan. Ah! yang benar saja, dia baru saja menaruh kepalanya. Tanpa banyak waktu, Aina langsung saja turun dan menghadap dimana ruang guru kedisiplinan berada.

Aina menunduk sopan saat menghadap guru kedisiplinan. “Aina, kamu pikir kamu bisa lolos dari hukuman hm? nggak bisa! kamu harus bersihin perpustakaan sekarang juga Aina. Kalau saya tau kamu ada kabur, saya akan tambah hukuman kamu!” tegas Guru kedisiplinan. Mendengar hal itu Aina terkejut, yang benar saja apakah ia harus membersihkan perpustakaan dengan buku sebanyak itu? sangat melelahkan! Namun yang bisa Aina lakukan hanyalah mengangguk pasrah, kemudian pamit keluar dari ruangan kedisiplinan.

Tanpa buang waktu, Aina lantas menuju ke perpustakaan. Masuk dan mengambil sapu juga kemucing yang ada.

Saat ia sedang berbersih, ada beberapa siswi yang sedang membaca buku. Aina hanya melirik nya sekilas kemudian kembali pada tugasnya. Beberapa saat, ia terkejut karena tiba-tiba ada Yuni, teman sekelasnya yang kini berdiri disampingnya. “Aina, kamu dihukum guru kedisiplinan?” tanya Yuni. Karena saat itu Aina sedang badmood dan sangat malas berbicara ia hanya mengangguk saja. “Sini aku bantu.” tawar Yuni dengan mengambil alih sapu yang ada ditangan Aina. Aina yang menerima respon tiba-tiba itu masih terkejut. “Loh, nggak usah Yuni. Aku bisa sendiri kok.” ucap Aina sambil ingin mengambil sapu itu kembali namun langsung di tolak oleh Yuni. “Ah, nggakpapa kok Aina. Kalo kerjaan nya dilakukan bareng-bareng kan cepat selesainya.” Aina hanya mengangguk dan berterimakasih kepada Yuni, karena ia fikir benar kalau Yuni membantu pasti akan cepat selesai.

 

Setelah selesai membersihkan seisi Perpustakaan. Aina dan Yuni duduk bersama di bangku perpustakaan dengan Aina yang meletakkan kepalanya di meja. Gadis itu nampak kelelahan. Yuni hanya memandang wajah Aina dengan tersenyum manis. “Aina.” panggil Yuni. Aina lantas membuka matanya dan mendongakkan kepalanya karena mendengar panggilan dari Yuni. “Iya Yun? kenapa?” jawab Aina sambil menatap Yuni. “Kamu suka nonton Drakor ya?” tanya Yuni. Aina yang mendengar kata ‘Drakor’ itu sontak membalakkan matanya terkejut. “Heh! iya aku suka banget sama Drakor.” ujar Aina. “Aku juga suka kok Ai. suka banget malah, pasti kamu sering ya begadang demi nonton drakor?” Aina mengangguk atas pertanyaan Yuni. “Aku dulu juga gitu, tapi karena aku sering begadang gara-gara nonton drakor aku jadi sering telat bangun. Dan mama ku pasti selalu marah kalau aku telat bangun, nanti aku jadi telat ke sekolah. Bahkan aku bisa ngantuk saat pelajaran dikelas dan itu buat nilai aku turun” Jelas Yuni. Aina yang mendengar dan menyimak semua itu hanya memelas dan merasakan hal yang sama pada dirinya. “Ai, mumpung belum telat. mending kamu kurangin kalau bisa hilangin kebiasaan buruk dengan begadang kamu itu. kamu boleh kok nonton drakor tapi ada batas waktunya. Nanti kalau kamu sering terlambat dan waktu tidur kamu kurang pasti pelajaran kamu bakalan terganggu. Waktu itu penting Ai, mulailah semua hal dengan disiplin waktu dan me-manage waktu dengan baik. Kan nanti dampak baiknya ke kita sendiri, Ibu kamu juga nggak akan marah lagi dan kamu nggak akan terlambat ke sekolah bahkan sampai kamu harus dihukum.” terang Yuni. Aina mengangguk paham sambil merenungkan semua yang dikatakan Yuni. Telak! semuanya benar ia sering terlambat dan selalu dimarahi ibunya karena tidak bisa mengatur waktu dengan baik. up”Mulai sekarang, aku akan lebih mengatur waktuku dengan baik kok. Aku janji aku akan batasi waktu nonton drakor ku dan memilih untuk belajar. Aku nggak akan mengulangi kebiasaan buruk ku itu lagi Yun.” ujar Aina. Yuni tersenyum manis pada Aina kemudian mengajak nya kembali ke kelas karena jam pelajaran akan segera dimulai.ย 

โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€

๐™๐™š๐™ง๐™ž๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™จ๐™ž๐™, ๐™ˆ๐™–๐™–๐™› ๐™–๐™ฅ๐™–๐™—๐™ž๐™ก๐™– ๐™–๐™™๐™– ๐™ ๐™š๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™—๐™–๐™๐™–๐™จ๐™– ๐™ข๐™–๐™ช๐™ฅ๐™ช๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™ช๐™ก๐™ž๐™จ๐™–๐™ฃ. ๐™ˆ๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ ๐™ค๐™ง๐™š๐™ ๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ก๐™š๐™—๐™ž๐™ ๐™—๐™–๐™ž๐™  ๐™ ๐™š๐™™๐™š๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™ฃ๐™ฎ๐™–.

แŸธแŸธ๏นซ๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ฆ ๐‘๐‘ฆ ๐ด๐‘š๐‘–๐‘›๐‘Žโ‚Šยท

About Aminatus Sholikhah

Hi, I'm Aminatus Sholikhah. I'm 17 years old. I learn on 3rd grade from Senior Islamic High School Of MA YASMU. I often fill my spare time with things that I like, one of them is by making up something or a story๐Ÿ˜„ I hope you enjoy and can appreciate my work. Thank you๐ŸŒป

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *