7 views

Brian, pemuda tampan berusia 21 tahun, sejak kecil ia ditinggal ayahnya menghadap Sang Pencipta ketika ia masih berusia tiga tahun akibat penyakit diabetes yang menggerogoti tubuh ayahnya hingga kurus kering dan kemudian meninggal dunia. Setelah ayahnya meninggal ia dibawa oleh ibunya ke rumah kakeknya yang kini menjadi pemilik pesantren yang Brian tempati. Selain terkenal dengan kesolehannya Brian yang memiliki akhlak mulia, pintar, dan cerdas itu banyak dikagumi gadis di pesantrennya, bahkan tak jarang gadis-gadis datang dari dalam maupun luar desa yang ingin memantukan dirinya, namun Brian masih belum mau menikah. Keinginannya menimba ilmu di pesantren masih membelenggu dirinya.

Aisyah, anak kelahiran luar pesantren yang kini tinggal di lingkungan pesantren itu sejak kecil menjadi teman Brian yang hingga kini menyukai Brian. Kurang lebih selama enam belas tahun Brian berteman dengan Aisyah. Brian sangat nyaman ketika bersama Aisyah karena Aisyah adalah satu-satunya teman yang bisa mengerti perasaan Brian.

Sebuah pohon mangga adalah tempat pelarian Brian ketika ia bersedih, begitu juga dengan Aisyah, tepatnya tujuh meter dari belakang pondok putri. Sikap Aisyah yang selalu ceria tatkala bertemu dengan Brian, namun hari itu tampak suram menyelimuti wajah Aisyah. Hal itu membuat Brian bertanya-tanya dan merasa bersedih melihat sikap Aisyah yang dingin terhadap Brian, seperti biasa Brian pergi ke pohon mangga.

Melihat Aisyah termenung sandiri membuat Brian sangat kebingunggan “apakah ada teman baru dalam hidupmu?” Tanya Brian dengan keadaan masih berjalan dan suara yang pelan “Brian” jawab Aisyah terbata-bata “apakah aku tidak menjadi teman baik untukmu?” Tanya Brian kembali. Aisyah hanya terdiam dengan kepala menunduk, dengan kesolehannya Brian kembali bertanya “apakah kamu lupa dengan janji kita bahwa kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka?” “Maafkan aku, Brian. Aku mohon maaf kepadamu” jawab Aisyah. Mendengar kata maaf membuat Brian kebingungan “Maafkan atas apa? Kamu tidak bersalah padaku. Hari kemarin kita bahagia di sini lalu mengapa sekarang kamu meminta maaf kepadaku.” jawab Mullam, dengan terbata-bata pula. Aisyah menjawab “Aku harus meninggalkanmu.” “Kata pertama yang kau ucap sangat tidak lucu. Ingat, Zae pak Kiyai tidak pernah mengajari kita bercanda secara berlebihan apalagi berbohong” “Aku serius, Lam. Aku akan pergi ke kota untuk melanjutkan kuliahku dan mungkin aku akan tinggal di sana beberapa tahun.” Mendengar kabar itu Brian menjadi lemah seperti tak ada lagi tulang yang membalut kulitnya sehingga tak satu kata pun terucap dari bibir mungilnya. “Maafkan aku, Brian. Besok pagi aku akan berangkat ke sana untuk mengurus semua administrasi dan segala hal yang diperlukan selama di sana. Kamu tahu kan kalau di pesantren ini dilarang menggunakan handphone, mungkin kita hanya mampu mengirim informasi lewat pos surat.” Brian diam seribu bahasa “Jaga dirimu baik-baik. Aku akan sangat merindukanmu” ucap Aisyah pelan seraya mencoba menapakkan kakinya untuk pergi sedangkan Brian masih dalam keadaan duduk bersedih. Brian meraih lengan Aisyah sembari berkata “Kamu harus berjanji bahwa kamu akan menemuiku lagi di tempat ini melanjutkan cita-cita kita untuk hidup besama dan segera kabari aku jika kamu sudah sampai di sana” jawab Brian parau. “Aku berjanji, dan tunggulah sampai kuliahku selesai, aku akan kembali untukmu.” Aisyahpun pergi meski dengan berat hati yang ia rasakan.

Akhirnya pemuda yang masih berusia 21 tahun dan Aisyah yang berusia 19 itu harus berpisah. Hari-hari terasa hampa dilalui Brian semenjak kepergian Aisyah, terlebih lagi belum ada kabar dari Aisyah yang datang menjenguknya. Brian sangat gelisah dan tek henti-hentinya ia bertanya kepada tukang pos langganan pondok pesantrennya namun, belum jua surat itu ia terima.

Suatu sore setelah mengaji di masjid Brian sedang asyik membaca Lathaiful Ma’arif  yang ditulis oleh Ibnu Rajab Al Hambali, seorang teman berhamburan ke arahnya dengan membawa sepucuk amplop cokelat berbingkai “Brian. Brian ada titipan untukmu dari pak pos.” mendengar terikan temannya segera Brian menutup kitab itu dengan bacaan hamdalah. Segera ia membuka surat yang ia rindukan itu. Ya, sebuah surat dari Aisyah yang diukir untuk Brian. Ia sangat senang dan segera membalas surat itu dengan tinta kerinduannya. Keesokan harinya ia titipkan rindunya lewat pak pos. Kegiatan itu mereka lakukan selama setahun enam bulan meski tak jarang banyak hambatan, mereka tetap melakukannya.

Setahun kemudian dalam surat yang dikirim Aisyah bertuliskan pesan bahwa ia akan pulang menemui Brian dan ia meminta Brian untuk mengkhitbahnya begitu ia pulang libur semester, yakni tiga bulan lagi. Membaca surat itu Brian riang bukan kepalang dan sangat menantikan kedatangannya. Hari demi hari dirasakan Brian sangat lamban namun, ia tetap sabar menanti kedatangan Aisyah.

Tiga bulan telah berlalu, namun Aisyah tak kunjung datang. Brian sangat cemas dan mencoba berkirim surat untuk Aisyah, tapi ia tak kunjung membalas surat itu. “Apakah di sana engkau telah menemukan pemuda lain dan melupakan diriku yang selalu setia menunggumu?” gumam Brian dalam kalbunya. Brian sangat kecewa dangan Aisyah.

Dua bulan kemudian surat dari Aisyah datang untuk menjawab pertanyaan Brian sehingga rasa kecewanya terusir. Segeralah Brian membuka dan membacanya, namun tidak seperti yang diharapkan surat itu berisi ucapan permohonan maaf dari Aisyah untuk Brian karena ia tidak bisa memenuhi janjinya dan yang paling menampar batin Brian ialah Aisyah telah dijodohkan dengan pemuda pilihan ayahnya yang sekaligus anak dari mitra kerja ayahnya. Membaca surat itu kesedihan yang dirasakan Brian kian menggunung. Harapan untuk hidup bersama Aisyah pupus sudah, namun meskipun seperti itu Brian masih akan tetap menunggu Aisyah. “Aku akan tetap setia menungumu di pohon mangga.” Hanya kata itulah yang ia tulis dalam balasan surat dari Aisyah. Sebuah puisipun tak lupa ia sematkan di dalamnya.

Nadi ini terasa tak berdenyut lagi

Disaat cinta yang kuimpikan tak bisa ku miliki

Rasa sakit terasa menikam diri

Kala ku tahu dirimu tak sendiri

Aku hanya bisa menahan rasa

Yang tak sempat kuucap dalam sebuah kata

Yang tersimpan rapi di dalam dada

Kini lara menikam sukma

Aku tenggelam dalam belenggu cinta

Yang tak mampu membuatku berpura

Tuk menutupi sebuah luka

Duhai dambaan hati…

Rasa cinta ini akan selalu ada

Meski ragamu tak mampu ku dekap

Memilikimu pun aku tak sempat

Aku hanya mampu menatap

Ingin menjabat tanganmu dengan erat

Tuk ucapkan sebuah selamat

Semoga kau bahagia dua dan akhirat

Brian Majnun

Keterpaksaan dirasakan Aisyah ketika ia menikah dengan pemuda pilihan ayahnya. Ia merasa sangat tidak nyaman karena harus hidup dengan orang yang tak dicintainya. Ia juga merasa sangat berdosa karena telah mengingkari janjinya kepada Brian.

Setahun sudah usia perkawinan mereka, namun Aisyah tidak juga jatuh hati kepada laki-laki pilihan ayahnya itu karena hanya Brianlah laki-laki yang ia inginkan sebagai pendamping hidupnya. Begitu juga dengan suaminya, ia merasa tak nyaman dengan sikap Aisyah yang selalu menggantungkan nama Brian dalam segala aktivitasnya sampai-sampai suaminya kelelahan hingga bermaksud membiarkan Aisyah lepas dari kehidupan perkawinannya dan ia menyuruhnya menemui Brian untuk menikahinya.

Mendengar maksud suaminya, Aisyah sangat gembira dan segera ia pulang ke pesantren untuk menemui Brian dan memenuhi janjinya. Setibanya di pesantren Aisyah bertanya-tanya keadaan dan keberadaan Brian namun tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Kemudian ia menanyakan kabar Brian kepada Awaluddin, sahabat Brian yang paling dekat, namun ia hanya menyodorkan selembar kertas bertuliskan “Temui aku di pohon mangga karena aku menunggumu” membaca tulisan itu Aisyah senang dan kagum dengan kesetiaan dan janji Brian kepadanya meski Aisyah kini ia telah berstatus janda.

Segeralah ia pergi ke pohon mangga untuk menemui Brian, belum juga ia sampai di pohon mangga ia sudah memanggil Brian dari kejauhan “Brian!” namun tak ada jawaban darinya. “Brian! Kamu dengar aku! Aku datang untuk memenuhi janji kita!” setiba di sana Aisyah tidak menemukan sosok Brian yang begitu ia rindukan. Ia hanya melihat tumpukan tanah merah yang tak lama habis digali dengan taburan bunga yang masih segar serta padung yang bertuliskan nama Brian. Melihat itu derai air mata mengalir deras dari kedua pelupuk mata Aisyah sembari merangkul gundukan itu. Kesedihan yang teramat sangat ia rasakan “Aku tak ingin kau menungguku dengan cara seperti ini, Lam. Maafkan aku. Aku telah membuatmu menunggu terlalu lama.” Aisyah hanya bisa menangis dan menyesali kepergian Brian, namun tidak ada lagi yang mampu ia lakukan selain menitipkan rindunya lewat doa-doa untuk Brian.

Dengan penuh rasa sesal dan sedih Aisyah kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah S2 dan berencana menetap di sana selamanya karena dia tidak sanggup berada di lingkungan pesantren terlalu lama tanpa Brian. “Kucari sosok tubuhmu di langit meski langit tak mungkin secantik kenangan.” Harapnya pasti.

Pesan moral: Jaga apa yang kamu miliki sekarang sebelum akhirnya kamu menyesal karena ia tidak ada lagi di dunia ini.

(Archy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *