HABIS INI BERPISAH

Seorang laki-laki tinggi membuka pintu kamar itu, dindingnya berwarna putih, udara di dalamnya sangat dingin. Jika ia boleh menebak, pendingin ruangan dalam kamar ini pasti sekitar 22°C. Padahal akhir-akhir ini masih sering turun hujan, udara di luar juga sangat dingin, entah karena alasan apa kamar ini diatur dengan suhu yang begitu rendah di musim hujan seperti ini.

Tampak seorang wanita tidak berdaya di atas tempat tidur pasien, tidak, bukan hanya tidak berdaya, ia juga sudah tidak bernyawa. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang berumur 10 tahun, ia duduk sambil menenggelamkan kepala di kedua tangannya. Berharap ibunya bangun dan berkata pada dirinya bahwa semua baik-baik saja, tapi harapan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Laki-laki tinggi itu berjalan pelan, semakin dekat dengan anak laki-laki yang dari tadi hanya duduk diam di samping jenazah ibunya.

“Kamu baik-baik saja?”

Sungguh pertanyaan yang tidak pantas dikeluarkan oleh laki-laki itu. Di mana saja ia selama ini, ketika keluarganya berjuang mati-matian untuk mendapatkan sepeser uang untuk kehidupan sehari-hari. Ketika istrinya meninggal, ia baru datang, entah mau mengucapkan ‘terima kasih sudah pernah hidup’ atau ‘terima kasih sudah tidak membebani hidupku’.

“Kenapa kamu kesini, mau menambah duka atau luka?”

Anak itu tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya, tapi membalasnya dengan pertanyaan yang lain. Ia tidak akan menangis di hadapan laki-laki itu, ia tidak mau terlihat lemah seperti ibunya.

“Aku mengunjungi kalian hari ini, lihat! Aku membawa hadiah untukmu dan adikmu, di mana adikmu? Aku belum melihat dia sama sekali.”

Laki-laki itu masih saja mencoba mencairkan suasana di ruangan ini. Padahal ia pun sudah tahu, kalau sudah begini, apapun yang dilakukannya tidak akan membuat anak itu senang.

“Adikku sedang dirawat dokter, dia terlahir cacat, tidak seperti bayi yang lainnya, aku yakin kamu tidak akan mau menemuinya setelah mendengar ini.”

“Cacat?”

“Iya, dia terlahir dengan dua kaki, tapi, kaki yang satunya hanya sampai lutut. Lebih baik kamu pulang, biar aku dan kakek yang merawat adik. Ini hanya akan membuang waktumu sia-sia, bukan?”

“Maafkan ayah, Fin. Ayah belum bisa menetap disini,ada pekerjaan yang belum diselesaikan di Jakarta.”

Aku yakin itu hanyalah sebuah alasan, ayah tidak akan pernah mau merawat anak-anaknya. Tidak habis pikir, kalau ia tidak mau menghidupi anak-anaknya, lantas kenapa ia menikah.

***

“Hei Fin, kok melamun?”

Laki-laki gemuk itu membuyarkan lamunan Alfin, ia teringat kembali akan hari itu, saat ibunya harus berpisah dengannya, adiknya yang terlahir cacat dan ayahnya mengunjunginya hanya untuk menambah duka. Lalu, kakeknya meninggal disaat adiknya berumur 5 tahun, sehingga ia yang berumur 15 tahun kala itu, harus bekerja dan merawat adiknya sendirian.

“Sejak kapan kamu disini, Mar?”

Damar, teman kerja Alfin, laki-laki yang memiliki tubuh gemuk dan tinggi, memiliki kulit berwarna sawo matang,  rambutnya juga dibiarkan panjang sebahu. Aku yakin, ketika orang-orang pertama kali bertemu dengannya pasti ketakutan karena penampilannya seperti itu, tapi ketika sudah akrab dengannya, semua prasangka buruk itu akan hilang, bagaimana tidak, ketika berbicara dengannya pasti akan ada pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul dari mulutnya, seperti :

Apakah ada planet bumi yang lain, selain di galaksi Bimasakti ini? Kalau iya, berarti ada manusia lain selain kita?

Bagaimana putri duyung melahirkan? Apakah operasi Caesar? Tapi di laut kan tidak ada dokter?

Jika Alfin sudah kesal dengan pertanyaan yang di ajukan Damar kepadanya, maka Alfin akan menjawab ‘Kenapa pertanyaanmu tidak ada yang realistis, Mar. Kita cuma manusia, pengetahuan kita terbatas, tidak seperti Tuhan. Kalau kamu ingin mendapatkan semua jawabanmu, tanyakan saja pada Tuhan, memangnya mau pergi ke Tuhan sekarang?’

Setelah mendengar jawaban seperti itu, pasti Damar langsung terdiam, menyimpan semua pertanyaan itu kembali di pikirannya, pasalnya ia tidak mau secepat itu bertemu dengan Tuhannya, masih banyak yang mau ia lakukan di dunia ini.

“Aku sudah dari tadi di sini, Fin. Kamu mau ikut melayat denganku atau tidak?”

Pertanyaan yang paling tidak disukai oleh Alfin, entah kenapa Damar sangat suka melayat, meskipun pada orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ketika ditanya, kenapa ia suka melayat, ‘Aku takut, jika nanti waktu aku meninggal, tidak ada yang melayat di rumahku’ begitu jawabnya. Tentu hal ini sangat berlawanan dengan Alfin, Alfin sangat tidak suka melayat, ketika melayat sudah pasti ia akan berpisah dengan seseorang lagi, ia tidak akan siap untuk berpisah, tidak akan pernah.

“Siapa yang meninggal, Mar?”

“Bu Karin, pemilik kedai bakso kesukaanmu, malu dengan keluarganya kalau kita tidak melayat, Fin, karena kedainya hanya berjarak 2 gedung dari tempat kerja kita.”

“Kenapa semua orang harus pergi, kenapa bukan aku saja yang dijemput tuhan, Mar?”

Damar sudah menyiapkan diri mendengarkan perkataan Alfin, ia tahu Alfin sangat membenci perpisahan, baik itu sementara ataupun selamanya.

“Tuhan pasti akan menjemput kita semua, Fin. Baik kamu atau aku, semuanya. Tapi tidak sekarang, Tuhan akan menjemput kita sesuai waktunya masing-masing. Bersiaplah, Fin, jika kamu mau ikut melayat, jangan lupa ajak adikmu!”

Memang benar apa yang dikatakan Damar, Tuhan akan menjemput kita semua sesuai waktunya masing-masing, tapi justru itu yang menjadi masalah, kenapa tidak bersama-sama saja, setidaknya yang merasakan duka hanya orang yang tidak kita kenal.

Meskipun Alfin tidak suka melayat, ia tetap ikut melayat kali ini, rasa sungkan kepada keluarga pemilik kedai mengalahkan rasa kebencian Alfin terhadap melayat. Alfin akan pergi bersama adiknya, di dunia ini ia hanya punya adiknya saja, tak heran jika Alfin sangat menyayanginya. Pernah suatu ketika, Alfin pulang dari kerja dan tidak mendapati adiknya di rumah, dia sangat ketakutan dan berteriak-teriak di dalam rumah seperti orang gila, padahal adiknya sedang membeli gula di toko sebelah rumah. Ia tak mau kehilangan lagi setelah ibu dan kakeknya yang dijemput Tuhan, ia tak mau hidup sendiri.

***

Rumah yang biasanya ramai karena pembeli, kian ramai karena orang-orang akan mengantarkan pemilik rumah untuk menghadap Tuhannya. Bendera kuning melambai-lambai di depan rumahnya, seakan ingin memberi tahu semuanya bahwa akan ada orang yang berpulang.

“Harka, dimana kakakmu?”

Ketika turun dari motor yang dikendarainya, Damar berteriak sambil melambaikan tangannya pada Harka.  Suasana disini sangat ramai, baik karena banyaknya orang yang melayat, Isak tangis keluarga yang ditinggalkan, atau karena klakson kendaraan yang saling bersahutan, yang disebabkan oleh kendaraan para pelayat yang diparkir secara sembarangan, apalagi gang disini agak sempit, kendaraan tidak akan bisa lalu lalang dengan mudah.

“Sudah di dalam kak.”

Harka, namanya Maharka. Adik laki- laki Alfin yang terlahir cacat, sekarang sudah berumur 17 tahun, ia bisa berdiri tegak dengan bantuan kaki palsunya. Meskipun bisa mengerjakan semua secara mandiri, Alfin tetap memperlakukan adiknya seperti anak kecil. Dibalik kekurangannya, Harka sangat pintar melukis dan membuat kerajinan, entah sebuah kebetulan atau bagaimana, bakatnya hampir mirip dengan namanya,  Mahakarya dan Maharka.

“Aku tidak habis pikir dengan kakakmu, katanya ia tidak suka melayat, tapi lihatlah! Sekarang ia yang masuk duluan kedalam.” Damar berjalan mendekati Harka, dan mengajaknya untuk masuk kedalam.

Harka tertawa pelan, “Dia memang agak aneh kak.”

Damar dan Harka memasuki rumah itu, menyisir pandangan ke sekeliling ruangan, berharap menemukan orang yang sedang dicari. Sedangkan orang yang dicari sudah duduk tenang di sebelah kiri, sibuk membacakan doa-doa dan ayat lainnya dari handphone yang dipegangnya.

Damar berjalan sambil sedikit membungkukkan badannya, diikuti oleh Harka dibelakangnya, mereka menghormati orang yang sudah duduk dari tadi, mereka menghampiri Alfin dan duduk dibelakangnya, ikut membacakan doa dengan harapan yang meninggal akan diampuni dosa-dosanya.

Selesai membacakan doa, mereka diberi jamuan berupa air putih, meskipun sekedar air putih, mampu melegakan tenggorokan yang kering sehabis membacakan doa.

Terlihat gadis kecil yang terus menangis di pangkuan ibunya, “Bu, ayo pulang!” katanya sambil menarik-narik kerudung ibunya, seperti yang dilakukan anak kecil biasanya, tidak betah jika diajak ke suatu acara dalam waktu yang lama, apalagi ini acara kesedihan.

“Sebentar nak, kita akan berdoa dulu, lalu pulang.” Ibunya mencoba menenangkan dia, sambil mengeluarkan beberapa permen dari sakunya, mencoba mengalihkan perhatian pada permen-permen itu.

“Kenapa ibunya tidak mengajaknya pulang terlebih dahulu, nanti dia bisa kembali lagi kesini.” Harka yang mendengar tangisan gadis itu dari tadi merasa kasihan padanya.

“Terkadang kata ‘iya’ lebih menenangkan seseorang daripada kata ‘sebentar’, Har.”

“Tidak kak, tidak semua orang tahan hanya dengan sebuah perkataan, mereka butuh tindakan.”

“Sudahlah Har, ayo pulang!”

“Nanti mampir ke tokonya koh Yan dulu kak, mau beli kanvas, ada yang mau order lukisan tadi pagi.”

“Oke.”

Alfin mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, sore ini Surabaya terlihat begitu indah, cahaya jingga dari matahari yang akan terbenam, lampu-lampu jalanan yang mulai dinyalakan, ditambah dengan petikan gitar dan nyanyian dari pengamen jalanan yang mengalun dengan merdu.

Ketika sampai di pasar, Alfin memarkirkan motornya dan mengambil karcis yang diberikan tukang parkir. Penjual yang berada di depan pasar terlihat menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang lewat di hadapannya, tidak peduli orang itu mau membeli dagangannya atau tidak.

“Koh, kanvasnya dua, kuas yang paling kecil satu, sama cat airnya satu” Harka memesan peralatan lukisnya sambil mengeluarkan uang seratus ribu dari dalam dompet, tiba-tiba sebuah karung jatuh tepat di belakangnya, “Maaf, saya gak sengaja” Laki-laki yang terlihat seumuran dengan Koh Yan, mengambil karung yang terjatuh tadi, menaikkan karung tersebut ke atas bahunya.

“Ayah!” Harka mengenali betul siapa kuli panggul itu, ia ayahnya, yang selama ini berpisah darinya. Meskipun Harka tidak pernah bertemu sama sekali dengannya, ia masih bisa mengenalinya dari foto yang berada di album pernikahan ibunya. Tapi, sayang. Ayahnya tidak bisa mengenalinya sama sekali, ayahnya terus memandanginya, berharap mendapatkan jawaban siapakah dia, pandangan ayahnya beralih kepada Alfin yang berada di sebelahnya, kemudian ia langsung mengerti, bahwa yang berada di hadapannya ini adalah anak bungsunya.

Ayahnya meletakkan karung yang sudah di atas bahu tadi kebawah, lalu langsung memeluk Harka, Harka juga membalas pelukan ayahnya, pelukan yang selama ini ia cari. Meskipun tidak pernah mendapat pelukan dari ibunya, karena ia terlahir piatu, setidaknya ia mendapat pelukan dari ayahnya.

Sedangkan Alfin yang berdiri di sebelahnya, sibuk mengemasi pesanan Harka dan memasukkannya ke dalam kantong plastik, Alfin mengajak Harka untuk segera pergi dari sini, “Ayo Har, pulang!”

“Kak, apakah kamu tidak mau berbicara dengan ayah terlebih dahulu?”

Harka masih mencoba meyakinkan kakaknya, membujuk agar mau memaafkan semua kesalahan ayahnya.

“Ayo pulang!”

Alfin menarik tangan Harka, ia harus pergi dari tempat itu sekarang juga, Alfin tidak mau menemui ayahnya lagi, sudah banyak luka yang diberikan ayahnya.

“Al.. Alfin, tunggu dulu. Biarkan ayah berbicara dengan adikmu”

Ayahnya terus berteriak, memanggil nama Alfin, namun, Alfin tidak menghiraukan panggilan ayahnya. Harka terus berusaha membujuk kakaknya, sambil sesekali menoleh ke belakang, ke arah ayahnya yang sedang menyusul ia dan kakaknya.

“Nak, jika kamu mau menemui ayah lagi, temui ayah di pasar ini, ayah selalu menunggumu di sini.”

Seakan tahu kalau ia tidak bisa meyakinkan anak sulungnya, tapi anak bungsunya pasti akan mau menemuinya lagi, ayahnya selalu menanti kedatangan anaknya di tempat ini.

Sesampainya mereka di rumah, mereka tidak mau saling berbicara. Alfin yang sibuk dengan amarahnya, Harka yang sibuk dengan keinginan untuk bertemu ayahnya. Alfin berdiri di dekat jendela, memandang taman kecil di teras rumahnya, berharap dapat meredakan amarahnya dan menenangkan dirinya. Sedangkan Harka duduk di sofa, melukis sebuah siluet anak yang sedang wisuda bergandengan dengan ayahnya, orderan lukisan harus ia selesaikan secepatnya, karena besok pagi harus diantar ke pembeli. Sejujurnya, Harka juga menginginkan apa yang sedang dilukis itu nantinya, ketika dirinya wisuda, ayahnya datang bersama kakaknya.

“Kenapa dia harus datang lagi dalam kehidupanku Ya Tuhan, apakah tidak cukup dia melukai ibuku, sekarang dia mau apa lagi?”

Alfin berbicara dengan dirinya sendiri.

***

Hari ini hari Minggu, seharusnya orang-orang menikmati pagi ini untuk liburan, bersenang-senang atau sekedar menikmati secangkir kopi di depan rumah sambil bergurau dengan tetangga. Tidak dengan Alfin, pagi-pagi tadi ia harus pergi bekerja, sengaja mengambil lembur untuk tambahan biaya sekolah adiknya, apalagi besok Harka sudah naik kelas 12 dan menjalani banyak ujian sekolah, pastinya hal itu memakan biaya yang cukup banyak.

Ketika Alfin sudah berangkat ke tempat kerjanya, Harka memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu ayahnya sekaligus mengantar orderan lukisan. Tidak peduli jika nanti ketahuan kakaknya dan akan memarahinya karena sudah bertemu ayahnya secara diam-diam.

Karena motor di rumah cuma ada satu, Harka harus menaiki angkot untuk sampai ke pasar itu, tidak menjadi masalah besar bagi Harka, karena ia juga menaiki angkot ketika berangkat sekolah tiap harinya.

Saat sampai di pasar, Harka mencoba mencari ayahnya, mengelilingi pasar, dari satu toko ke toko lainnya, sampai di tempat parkir yang biasanya para tukang panggul akan berkumpul di situ, berebut pekerjaan diantara sesamanya, ia juga tidak bisa menemukan ayahnya di tempat parkir. Satu jam, dua jam, ia menunggu ayahnya, barangkali ayahnya belum berangkat kerja, tapi sayang, ayahnya tetap tidak kelihatan.

Harka memutuskan untuk menanyakan alamat rumah ayahnya kepada seorang tukang panggul, “Permisi pak, di mana tukang panggul yang memiliki tubuh tinggi dan rambutnya ikal?”

“Apa kamu bisa menyebutkan ciri-cirinya yang lain, karena tukang panggul yang memiliki ciri-ciri seperti itu banyak.”

“Dia memiliki tahi lalat di atas alis kanannya dan memiliki lesung pipi.”

“Oh.. pak Andi? Dia tidak kerja hari ini, dia punya sakit lambung dan sering kumat, jadi dia juga jarang berangkat kerja.”

“Di mana rumahnya pak?”

“Di belakang pasar ini ada dua gang, dia tinggal di gang yang kanan, rumahnya terbuat dari kayu, dan ada sebuah sumur di depan rumahnya.”

Tukang panggul itu menjelaskan kepada Harka

“Baik pak, terima kasih.” Harka mengangguk faham.

Harka yang sudah mengerti alamat ayahnya, segera pergi dari pasar itu, tidak lupa membelikan makanan dan obat untuk ayahnya.

***

“Fin, kemarin pergi kemana setelah melayat? Aku cari di rumahmu kamu dan adikmu tidak ada, padahal mau aku beri kue kering kesukaan adikmu, nih kue keringnya!”

Damar menaruh setoples kue kering di meja Alfin, sedangkan yang diberi kue, sibuk mengunyah roti tawar, yang sama tawarnya dengan kehidupannya.

“Ke pasar, beli kanvas untuk Harka.”

Alfin menjawab singkat.

“Kenapa kamu tidak semangat hari ini, Fin? Karena ini hari Minggu? Karena kamu capek? Karena kamu harus bertemu dengan aku yang jelek ini?”

Damar menyerang Alfin dengan banyak pertanyaan, perkataan Damar memang benar, tapi tidak dengan pertanyaan terakhir. Damar tidak sejelek itu sehingga Alfin malas untuk menemuinya.

“Aku kemarin bertemu ayahku, dia memaksa untuk berbicara dengan Harka, Harka juga ingin bicara dengannya. Aku tidak mengijinkannya, aku tidak mau dia menghancurkan kehidupan adikku, Mar.”

“Boleh jadi dia sudah berubah, Fin. Tuhan bisa membolak-balikkan hati seseorang.”

“Yang berubah cuma pekerjaan dan penampilannya, dulu dia pengusaha besar, sekarang hanya tukang panggul yang mengadu nasibnya di pasar. Tidak tahu hatinya berubah atau tidak.”

“Kamu bisa berikan dia kesempatan sekali lagi, jika tidak demimu, demi Harka, dia tidak pernah bertemu ayahnya sejak lahir, wajar jika dia ingin bicara dengan ayahnya.”

“Akan aku pertimbangkan dulu, Mar.”

***

 

 

“Permisi!”

Harka mengetuk pintu rumah itu, meskipun rumah itu terbuat dari kayu, namun, bisa Harka akui rumahnya sangat bersih dan rapi.

“Silahkan masuk saja!”

Pemilik rumah berkata dari dalam rumah, mempersilahkan tamunya masuk.

Harka mulai membuka pintunya, dan yang terlihat pertama kali adalah ayahnya yang sedang berbaring di atas tikar, di sampingnya terdapat roti tawar dan teh hangat yang mulai mendingin. Ayahnya terkejut ketika melihat siapa yang datang ke rumahnya, ia pikir anaknya tidak mau menemuinya lagi.

“Kamu tidak menepati janjimu, ayah. Kamu bilang akan menungguku di pasar, tapi sekarang kamu terbaring sakit di rumah.”

Harka duduk di sebelah ayahnya, membantu ayahnya untuk bangun, ia mengeluarkan beberapa makanan dan obat dari dalam kantong plastik.

“Maafkan ayah, akhir-akhir ini ayah sering sakit.”

“Aku bawa bubur ayam dan beberapa obat, makanlah, biar cepat sembuh. Ternyata ayah juga suka roti tawar seperti kakak ya? Apa teh nya perlu aku hangatkan lagi?”

“Tidak perlu di hangatkan, aku minum air putih saja. Aku suka roti tawar karena aku tidak suka yang manis-manis nak, kecuali ibumu.”

Harka menertawakan ayahnya, dalam keadaan sakit pun masih sempat bercanda, jika ibunya berada di sini pasti ia sangat bahagia.

“Oh iya, aku dengar dari cerita kakak, kenapa ayah dulu meninggalkan ibu? Saat aku lahir ayah hanya mengunjungiku sebentar, lalu pergi lagi.”

Pertanyaan yang sangat ingin Harka tanyakan langsung kepada ayahnya dari dulu, terucap sekarang, rasa penasaran Harka sudah tidak dapat dibendung lagi. Ia yakin pasti ada alasannya ayahnya meninggalkannya ibunya begitu saja.

“Kakekmu yang menginginkannya, kakekmu dulu tidak menyukai ayah, karena ayah dulu orang tidak punya, tapi setelah menikah dengan ibumu, ayah langsung mendapat pekerjaan yang gajinya cukup tinggi. Tapi kakekmu tetap tidak menyukai ayah, bahkan menyuruh ayah untuk menjauhi ibumu. Mungkin kakakmu tidak tahu hal ini, maka dari itu dia sangat membenciku.”

Harka terkejut dengan jawaban ayahnya, selama ini kakaknya tidak tahu hal yang sebenarnya, Harka tidak habis pikir, kenapa kakeknya bisa memperlakukan ayahnya seperti itu.

***

 

“Kamu dari mana, Har?”

Harka yang terkejut karena kakaknya sudah pulang dari kerja pada pukul 12 siang, ia mengira kakaknya akan pulang sore seperti biasanya.

“Habis ketemu ayah? Sudah kakak bilang, jangan bicara dengannya!”

“Ayah tidak sejahat itu kak, mungkin kakak bisa membenci ayah, tapi aku tidak.”

“Kalau tidak jahat, kenapa dia meninggalkan ibu? Kenapa dia tidak pernah mengunjungi kita waktu kita kecil, Har?”

Alfin menaikkan nada bicaranya, kesal dengan sikap adiknya yang terus membela ayahnya.

“Kakek yang menginginkannya.” Harka menceritakan semuanya, seperti apa yang diceritakan ayahnya kepadanya tadi.

Alfin sama terkejutnya dengan Harka, ketika mendengar cerita itu.

“Biarkan ayah tinggal bersama kita kak, dia sedang sakit sekarang, tidak ada yang merawatnya di sana, dia tinggal sendirian. Jika kakak tidak mau, maka aku yang akan tinggal bersama ayah di sana.”

“Tidak, Har. Jangan pernah pergi, aku tidak mau kehilangan siapapun lagi, bawa ayah kesini!”

“Terima kasih kak”

Mungkin benar apa yang dikatakan Damar, Tuhan bisa membolak-balikkan hati seseorang, yang awalnya Alfin sangat benci pada ayahnya, sekarang ia mau menerima ayahnya. Keinginan Harka juga terwujud, sekarang ia bisa hidup bersama ayah dan kakaknya dalam satu rumah.

***

Pukul 05.30, masih sangat pagi untuk orang-orang beraktivitas di luar rumah. Tapi sepagi ini, Alfin menjemput ayahnya di belakang pasar, tepatnya di sebuah rumah kayu yang ditinggali oleh ayahnya. Harka tidak ikut dengan Alfin, karena motor yang mereka punya cuma satu, lagi pula Harka harus menyiapkan keperluan sekolahnya. Tidak masalah bagi Alfin, jika ia harus menjemput ayahnya sendirian, ia juga sudah diberitahu alamatnya oleh Harka, Alfin bukan anak kecil yang nantinya akan tersesat ketika mencari ayahnya.

“Cuma 1 tas barangnya?” Alfin bertanya heran pada ayahnya.

“Iya, kuli seperti ayah, tidak mempunyai barang yang berharga, nanti peralatan yang ada di rumah ini bisa ayah jual, untuk tambahan biaya sekolah adikmu.” Alfin mengangguk faham.

Dua puluh menit tanpa percakapan, motor Alfin membelah jalanan lenggang hari Senin.

“Ayah, bagaimana kabarmu? Apakah masih sakit?” Sampainya di rumah, Harka langsung menyambut ayahnya di depan pintu.

“Sudah lebih baik, karena bubur ayam yang kamu berikan kemarin”

“Bisa saja” Harka tertawa sambil menepuk pundak ayahnya.

“Biarkan kami masuk dulu, Har.”

Alfin yang dari tadi diam mulai berbicara.

“Oh iya, silahkan masuk!” Harka mempersilahkan ayah dan kakaknya masuk ke dalam rumah.

“Ayah, tadi sudah aku buatkan teh hangat, nanti bisa minta tolong kakak ambilkan, aku harus berangkat sekolah dulu.” Harka menyalimi tangan ayahnya, lalu berangkat ke sekolah.

“Iya, hati-hati!”

***

Harka siap menaiki angkot untuk berangkat ke sekolah, hari ini ia sangat senang, sepanjang perjalanan, ia terus tersenyum, mungkin orang yang melihat dia, menyangka bahwa ia sudah tidak waras. Harka memutar lagu The nights dari Avicii, sesekali dia menyanyikan liriknya

My father told me when I was just a child

“These are the nights that never die”

My father told me

Ketika ia turun dari angkot, ia harus jalan kaki sekitar 100 meter, karena rute angkotnya tidak bisa sampai di depan sekolah, Harka lupa mematikan earphone yang digunakannya, sehingga lagu-lagu terus mengalun di telinganya, menghalau segala bunyi dari sekitarnya.

Mirisnya, ada sebuah mobil dengan rem blong yang sedang mengarah padanya, orang-orang sudah berteriak memanggilnya, namun, ia tidak mendengarnya sama sekali. Tubuhnya berada di sini, tapi pikirannya masih tertinggal di rumah, bersama ayahnya.

Kecelakaan terjadi, Harka yang tadi berjalan dengan diiringi lagu dari earphone nya, sekarang tergeletak di tanah dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, kaki palsunya patah, terpisah dari kaki aslinya. Pandangannya kabur, dan mulai gelap, sayup-sayup terdengar orang berteriak ketakutan, lalu perlahan menghilang. Hanya hitam dan gelap, hal yang dirasakan Harka.

Alfin yang hendak mengantar buku paket Harka yang tertinggal di rumah, ia harus menghentikan motornya di tengah perjalanan, ia melihat kerumunan orang sekitar 50 meter dari sekolah Harka. Alfin yang penasaran, mencoba melihat apa yang sedang terjadi, bertanya pada orang-orang di kerumunan itu, ada kecelakaan katanya.

Ketika Alfin melihat kaki palsu yang biasanya dikenakan adiknya berada disitu, ia sangat ketakutan, ia hendak membuka lembaran koran yang menutupi seluruh bagian badan korban. Polisi mencegahnya, “Jangan, nanti mengganggu proses olah TKP.”

“Dia adikku, pak!” Alfin berkata dengan gemetar, dalam hatinya berdoa, semoga korban kecelakaan itu bukan adiknya, tapi tidak, doanya tidak menembus langit, memantul kembali. Alfin yang melihat bahwa itu adalah jasad adiknya, kemudian menangis, ia menggenggam erat tangan adiknya, jika boleh, ia ingin memeluknya untuk terakhir kali, tapi ketika melihat kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan.

“Harka…” Alfin berteriak dan menangis sekencang-kencangnya, tidak peduli berapa orang yang memandanginya.

“Ibu… Kenapa Harka yang kamu ajak pergi? Kenapa bukan aku saja?” Sekali lagi, Alfin tidak terima dengan takdirnya.

***

Beberapa karangan bunga berdiri rapi di depan rumahnya, meskipun berbeda-beda bentuknya, isinya hampir sama, tulisan turut berduka cita dengan aneka bentuk huruf.

Turut berduka cita

Turut berduka cita

Turut berduka cita

Turut berduka cita

“Fin, semua kejadian ada hikmahnya, belajarlah menerima takdir! Cobalah menerima setiap perpisahan! mungkin Tuhan terus mengujimu sampai kamu bersabar atas semua musibah.”

Ayahnya terus menenangkan Alfin, Damar memberitahu padanya bahwa Alfin adalah orang yang paling tidak siap dengan perpisahan, tidak menyukai, bahkan benci dengan perpisahan.

“Sampai kapan, Tuhan mau mengujiku, sampai batas mana lagi?”

“Sampai kamu tidak mengeluh padanya.”

Alfin memandang ayahnya, meminta jawaban, memastikan apakah benar yang dikatakan ayahnya.

Ayahnya mengangguk sebagai jawaban.

Akhirnya Alfin ikut memakamkan jenazah adiknya dengan tenang, tanpa ada keluhan lagi yang ia ajukan pada Tuhannya.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Madrasah

Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa...
Latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) merupakan segala sesua...
Peringatan Bulan Bahasa Di MA Ya...
Setiap bulan selalu ada peringatan yang dirayakan, baik secara...
Absensi Digital Inovasi Baru MA ...
Absensi Digital inovasi baru MA Yasmu pada tahun pelajaran 202...
Masa Ta'aruf Siswa 2022-2023
MA YASMU.- Setiap tahun ajaran baru, proses pembelajaran di li...
HABIS INI BERPISAH
Seorang laki-laki tinggi membuka pintu kamar itu, dindingnya b...
ANTARA CINTA DAN BENCI
Kini diriku semakin beranjak dewasa , dulu cintaku masih labil...

Agenda Madrasah

Rabu, 26 Oktober 2022
Lomba Memperingati Sumpah Pemud...
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik

Pengumuman Madrasah

Jadwal Pondok Ramadhan
Jadwal Luring Kelas IV
Stop Bullying

E-Content Madrasah Aliyah Yasmu

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

E-Content Madrasah Aliyah Yasmu

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman