Karya

CERPEN SE AMIN TAK SE IMAN

SE AMIN TAK SE IMAN

Silir-silir angin masuk melalui ventilasi, menusuk Indra peraba gadis dengan novel di tanganya. Beberapa menit telah berlalu, ia bosan dengan buku di tanganya. Gadis itu meletakkan buku di atas nakas.

Lina pun keluar kamar dan menghampiri mamanya keruang keluarga untuk menonton televisi.

Mereka berdua menikmati malam dengan menonton televisi. Keduanya tak ada yang bersuara, hanya televisi menyala yang menimbulkan bunyi.

“By the way, aku lagi suka sama seseorang loh, ma”

” Oh ya? Siapa sayang?” Respon sang mama antusias.

“Gilang” lirihnya hampir tak terdengar.

Mamanya terkekeh.” Ngomong yang keras, Lin” tuturnya.

“Gilang, ma”

“Sahabat kamu itu?

Lina,, gadis lembut dengan proporsi tubuh menarik, kemolekan wajahnya selalu dihiasi senyuman manis khasnya. Ia yang mengangguk menanggapi.

” Mama kurang setuju deh,”terang sang mama.

Lina menolha cepat. “Kenapa? Karena dia beda keyakinan sama aku, ya ma?”

Mamanya mengangguk setuju.

” Tapi aku suka dia udah dari dulu, ma. Aku udah coba buat melenyapkan pikiran tentang dia. Tapi tetap nggak bisa,” ucapnya trenyuh.” Ijinkan aku buat mengungkapkan perasaan terpendam ini, ya ma?” Mohon Lina.

Lina lantas memeluk tubuh sang mama. “Aku kekamar dulu, ya ma,” pamitnya sopan.

Dikamar, Lina memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaan terpendamnya selama ini.

Dirinya membaringkan tubuh, hingga ia terlelap dalam mimpinya.

” Sore, Lang”

“Waalaikumsalam,sore Lin, ada apa?”

” Ke pantai yuk! Kalah bisa sekarang ya, aku tunggu”

“Oke”

Lina memutuskan sambungan telepon. Ia bersiap-siap ke pantai.

Lina pun keluar dari kamar untuk berpamitan pada mamanya. Kemudian ia pergi dengan sopirnya.

15 menit Lina pun sudah sampai di pantai, Ia berdiri menunggu calon kekasih tiba. Belum lama dirinya menunggu, tiba-tiba sepasang tangan melingkar diatas bahunya. Lina terkejut bukan main.

Melihat wajah lina menegang, Gilang tertawa puas. Dirinya berhasil membuat sahabat kecilnya ketakutan.

Kesal akan tawaan Gilang,Lina  memukul lengan sahabatnya itu.

” Ada apa?” Tatapan Gilang mengundang jantung Lina berolahraga.

” Dulu kita sering main bareng di sini, pulang sekolah pamit ke sini, sorenya ke sini lagi. Tapi nggak ada yang bosan yang menghinggapi perasaan. Dulu kamu suka aku kan? Tapi nggak berani menyatakan, aku mau ngomong sesuatu.” Tekad bulatnya membawa keyakinan bahwa ia mampu mengutarakan.

Gilang mengangkat sepasang alisnya. Tatapan Lina tertuju pada pohon rindang nan menyejukkan.

” Aku suka kamu Lang,” ungkapnya, deg!

” Gilang pun menjawab: Lo sama gue tuh beda.”

Lina memegang lengan Gilang. “Gue mau pindah agama demi Lo Lang, asal Lo Nerima gue.”

” Nggak! Lo Kristen dan gue Islam. Ibarat air dan minyak. Nggak akan pernah bersatu! Mending lo nyari yang sepadan. Karena yang se-aamin belum tentu se-iman!” Bentaknya kasar.

Seketika Lina diam mematung. Awan mendung menyambangi kedua matanya. Setetes demi setetes cairan bening melintasi pipi mulusnya.

“Lin, Lo tau nggak? LDR paling jauh itu beda apa?”

Lina mengangguk, ” beda keyakinan.”

Gilang menggelang cepat. ” LDR paling jauh bukan cuma beda keyakinan. Tapi juga beda perasaan. Kayak gue ke Lo itu nggak ada perasaan apa-apa sama sekali. Rasa itu udah lenyap seiring berjalannya waktu, “sarkasnya.

Lagi dan lagi, bukan menghibur hatinya yang hancur. Justru Gilang malah memperdalam sayatan luka yang terukir di hatinya.

” Dekati dulu pencipta-nya. Nanti Lo bakal didekatin sama hamba-nya. Selama Lo jauh dari Tuhan Lo, Lo bakal dijauhkan juga dengan hamba-nya. Lupain gue, dekati tuhan lo, dan jangan pernah temuin gue lagi!” Kalimat terakhir yang dikemukakan Gilang sebelum dirinya mengangkat kaki dari tempat ini.

Lina beranjak dari duduknya. Ia berlari didekat pantai tersebut.

” Gue benci Lo, Lang. Ternyata yang menyakiti paling dalam adalah orang yang gue anggap spesial.” Lina menangis sejadi-jadinya. Semua beban yang ia tahan akhirnya dikeluarkan. Ada perasaan lega, namun rasa sakitnya melebihi itu semua. Terlihat berlebihan, tapi itulah kenyataan.

Setelah merasa tenang, Lina meninggalkan pantai itu. Ia memesan taksi onlin untuk pulang.

Sesampainya dirumah yang terlihat sepi tanpa ada suara, ia langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur kamarnya. Hatinya merasa sakit, tubuhnya pegal-pegal. Tak berlama-lama, Lina pun terlelap dalam mimpi indahnya.

Gilang menggenggam kedua tangan Lina, ” gue minta maaf Lin, gue harap Lo bisa nerima gue lagi.”

Lina hanya mengangguk pelan,

“Soal Lo ngungkapin itu, gue pikir gue wajib nerima.”

“S-serius, Lang?” Tanya Lina antusias.

Gilang mengangguk menanggapi. “Secepatnya gue akan meet sama bokap nyokap lo.” Gilang berucap serius.

Lina dibuat melongo. ” Secepat itu?”

“Buat apa lama-lama? Toh kita udah kenal dari kecil, kan?”

Lina mengangguk setuju. “Jadi kapan?”

” Kurang tahu, sih. Tapi kalau bisa ya, secepatnya.”

Setelah penantian bertahun-tahun, akhirnya cinta Lina tak bertepuk sebelah tangan. Harapannya kini terwujud. Ia menjadi wanita terbahagia saat ini.

Malam Minggu yang dinanti-nanti Lina akhirnya tiba. Gilang beserta orang tua mendatangi rumahnya. Malam ini, Gilang meminta restu untuk menikahi putri Bapak Arez dan Ibu Allysia. Acara tersebut berjalan lancar.

Setelah direstui, mereka berencana untuk segera kejenjang pernikahan.

Pagi ini mereka akan pergi ke butik. Pastinya untuk memilih baju pengantin yang cocok. Tiba-tiba ponsel Gilang berdering, ia merogoh sakunya. “Aku angkat telepon dulu,” ujarnya menyentuh bahu Lina kemudian keluar dari butik,

Setelah berbincang-bincang dengan orang di seberang sana, Gilang masuk kembali. “Udah” bisiknya lembut tepat ditengah Lina. Kedatangannya membuat Lina terpelonjak kaget. Bulu kuduknya perlahan menegang.

Gilang pun terkekeh pelan,” kalau dilanjut besok bisa nggak?”

“Kenapa?”

“Aku ada meeting mendadak dikantor.”.” Kamu ke kantor aja, kau di sini nungguin mbaknya, kurang bentar doang kok.”

Gilang mengangguk paham, kemudian dirinya menuju kantor.

Lina pulang sendirian, sebab Gilang mengabari bahwa ia masih ada kerjaan di kantor.

Semua prepare pernikahan keduanya telah selesai total. Tinggal menunggu hari H-nya, mereka akan sah menjadi pasangan suami istri. Gilang dan Lina menggelar pesta pernikahan dengan sangat mewah. Senyuman Lina terpampang jelas setiap saat. Tak pernah memudar, dan selalu terpancar, seakan hidup terasa bebas tanpa beban.

Percikan air menetes secara bertahap pada wajahnya. Ia kira itu suaminya yang sedang membangunkannya. Ternyata itu mamanya. Sial! Ia cuma bermimpi.

“Tidur kok senyum-senyum aja Lin. Mimpi apa kamu?” Tanya mama Lina tertawa.

Lina menggaruk tengkuknya yang gatal. “Nikah sama Gilang, ma”. Katanya malu.

Pagi-pagi, mamanya disuguhi lelucon. “Ada-ada saja kamu ini, Lin. Ayo ceept mandi. Nanti kita telat ke gereja.”

“Tuhan, semoga mimpi ini jadi kenyataan,” ucapnya berharap.

Selesai.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button